Thursday, December 25, 2008

Budaya Malu



Rasa malu bagi seseorang merupakan daya kekuatan yang mendorongnya berwatak ingin selalu berbuat pantas dan menjauhi segala perilaku tidak patut. Orang yang memiliki watak malu adalah orang yang cepat menyingkiri segala bentuk kejahatan. Sebaliknya, yang tidak memiliki rasa malu berarti ia akan dengan tenang melakukan kejahatan, tidak peduli omongan, bahkan, cercaan orang lain. ''Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,'' begitu mottonya.

Islam menilai, watak malu itu merupakan bagian dari iman. Dengan demikian, orang yang tidak mempunyai rasa malu adalah orang yang hilang imannya. Orang hidup bermasyarakat sudah tentu harus mendengarkan apa kata masyarakat tentang dirinya. Masyarakat tak pelak lagi sebenarnya mengetahui apa yang dilakukan anggotanya. Masyarakat pula yang berhak mengoreksi apa-apa kelakuan yang tidak baik atau tak pantas anggotanya. Bagi yang tak punya malu, omongan atau koreksi masyarakat akan dianggapnya angin lalu.

Ada sebuah ungkapan warisan para nabi, yang menyatakan bahwa sudah rahasia umum, orang yang hilang perasaan malunya tak lain dari orang yang sudah terbiasa berbuat kemungkaran dan kemaksiatan dalam segala jenis dan bentuknya. Ia mau melakukan kejahatan, kelaliman dan kekejian.

Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya, yang dapat diambil sebagai pelajaran dari para nabi terdahulu ialah, apabila kamu sudah tidak mempunyai perasaan malu maka berbuatlah semaumu;'' riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Itu berarti, orang yang demikian sulit untuk mau mawas diri, meski berhadapan dengan umpatan dan kecaman orang banyak pun.

Berdasar riwayat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung, bila berkehendak menjatuhkan seseorang maka Allah cabut dari orang itu rasa malunya. Ia hanya akan menerima kesusahan (dari orang banyak yang marah kepadanya. Melalui ungkapan kemarahan itu, hilang pulalah kepercayaan orang kepadanya. Bila kepercayaan kepadanya sudah hilang maka ia akan jadi orang yang khianat. Dengan menjadi khianat maka dicabutlah kerahmatan dari dirinya. Bila rahmat dicabut darinya maka jadilah ia orang yang dikutuk dan dilaknati orang banyak. Dan bila ia menjadi orang yang dilaknati orang banyak maka lepaslah ikatannya dengan Islam.''

Republika
Wednesday, December 17, 2008
Hari ini banyak Bapak-bapak & Ibu Guru yang datang ke tempat saya, mereka mananyakan Hasil Sertifikasi Guru yang telah mereka ikuti. Berikut ini cara membuka dan melihat Hasil Sertifikasi Guru tersebut.

1. Buka Browser di Komputer anda (Internet explorer, Mozilla Firefox, Opera).

2. Ketik di Browser anda http://www.sertifikasiguru-r10.org/page/hasil

3. Akan muncul tampilan seperti dibawah ini :



4. Pilih Daerah / Kabupaten



5. Tulis Nama yang anda Cari



5. Hasil Kelulusan atau Tidak Lulusnya anda.



Semoga Bermanfaat.
Thursday, December 11, 2008

Bangga Jadi Orang Miskin



Kebiasaan masyarakat Indonesia , kreatif mempergunakan kesempatan. Namun, kesempatan yang dimaksud di sini adalah hal-hal yang kurang baik dan cenderung memalukan. Entahlah, mungkin karena taraf pendiikan yang terlalu rendah, atau salah arah pendidikan. Kian hari, kian banyak bertebaran generasi-generasi pengemis, pemalas, tidak berpengetahuan, dan berpikiran instan.



Perhatikan berbagai even yang digembar-gemborkan memberikan hasil instan dan cepat tanpa perlu banyak keluar modal dan usaha. Yang penting bisa untung, entah prosesnya gimana terserah, mungkin demikan pemikiran mereka. Hal-hal demikian ini dapat kita temui dalam berbagai bentuk, baik yang halal maupun yang haram. Contohnya dalam hal yang haram, merebaknya berbagai bentuk perjudian skala kecil semacam perjudian tukang becak dan preman pasar pakai kartu maupun domino dengan omset kecil, sampai taraf level tingkat tinggi pakai mesin judi slot dan rollet dengan omset jutaan. Ada pula bentuk-bentuk perjudian terselubung melalui media elektronik, termasuk penggunaan SMS premium yang berharga mahal dan diundi dengan iming-iming hadiah besar, padahal tidak semuanya mendapatkan hasil. Lebih banyak dari mereka yang rugi dan sekedar ditipu saja. Para penjudi ini berdalih untuk menambah penghasilan, mereka berusaha mendapat kesenangan dan terbuai harapan mendapatkan keuntungan secara instan. Itulah para pemalas.



Dalam bentuk yang halal dan baik juga demikian adanya, banyak manusia yang kreatif dan pintar mengakali. Liat aja kasus-kasus BLT, orang-orang pada berebut untuk dimasukkan dalam daftar orang miskin agar menerima uang instan. Mereka berlagak jadi orang miskin di bawah garis standar hidup, padahal punya TV, kulkas, rumah lumayan, bahkan punya perhiasan emas. Ada lagi even pembagian zakat fitrah, zakat maal, daging kurban, dan sebagainya. Banyak yang berlomba-lomba menuju kemiskinan. Mereka turut antri dan berdesak-desakan dengan orang-orang lainnya yang memang berhak menerima pembagian itu. Mereka tidak punya malu lagi, tidak merasa bahwa kelakuan-kelakuan semacam itu adalah salah dan memalukan. Persis juga dengan orang-orang yang pura-pura miskin kemudian berkeliling kota mencari-cari sumbangan mengatasnamakan yayasan yatim piatu, dan sebagainya. Sedangkan orang-orang yang benar-benar miskin susah hidup dan harus bersaing penghidupan dengan para penyerobot kreatif tadi.



Demikianlah, banyak di sekitar kita, manusia yang kreatif sedemikian, tidak punya malu menyerobot hak-hak saudaranya yang lain yang benar-benar miskin. Hal ini sebenarnya adalah juga salah satu jenis korupsi yang makin kuat mengakar dalam tingkah laku bangsa kita. Lantas kenapa negara tidak bersungguh-sungguh mengelola keuangan yang berasal dari zakat, sumbangan, infaq, pajak, dan lain sebagainya untuk alokasi penghidupan kaum miskin dan anak terlantar. Padahal kaum miskin dan anak terlantar seharusnya menjadi tanggungan negara. Beberapa waktu lalu telah diadakan peraturan pelarangan memberikan uang kepada pengemis dan gelandangan di jalanan kota-kota besar, tetapi solusi untuk mengcover penghidupan mereka tidak dioptimalkan, demikian pula tunjangan pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan lain sebagainya susah diperoleh oleh kaum miskin.



Lantas keuangan ini kemana mengalirnya??? Apakah masuk kantong pejabat atas alias di korupsi???

Begitu pula pembagian kurban, zakat, BLT, dan sebagainya, sepertinya masih banyak salah sasaran, termakan orang-orang yang memiskinkan diri dan tukang serobot hak orang-orang lain yang seharusnya menerimanya. Hal-hal semacam ini kenapa tidak ditertibkan??? Atau memang dikondisikan demikian agar manusia-manusia Indonesia tetap menjadi generasi pemalas, tidak tahu malu, dan jadi tukang serobot. Mulai dari pejabat atas hingga komunitas rakyat jelatanya mengakar sikap korupsi dan sifat tidak tahu malu.



Naudzubillah.

Kapan berubah???